Mafia Peradilan Berjalan Sistemik : Tugas OPSPEK

Setelah selesai membuat essai dengan tema “Liberalisasi Pendidikan” tugas Opspek masih terus berlanjut yaitu mencari artikel di koran tentang “Mafia Peradilan”. Tentu saja saya mencari beberapa koran yang ada untuk mencari artikel yang saya butuTehkan tetapi cukup sulit. Nah dengan bantuan Paman Google saya mendapat banyak artikel yang saya butuhkan. Bagi teman-teman yang mengalami permasalahan seperti saya dapat mengikuti pengalaman saya. Berikut ini merupakan hasil pencarian artikel yang dipublikasikan di Harian Tempo…

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Komisi Yudisial, M. Busyro Muqoddas, mengakui buruknya citra dunia peradilan Indonesia. “Citra peradilan kita masih merah. Mafia peradilan sudah berjalan secara sistemik,” ujar Busyro.

Menurut Busyro ada empat bentuk modus operandi mafia peradilan yang acap terjadi di peradilan Indonesia.
Modus pertama, adalah penundaan pembacaan putusan oleh majelis hakim. “Kalau ditanyakan ke panitera, akan dapat sinyal bahwa hakim minta sesuatu,”ujar Busyro.

Modus kedua, manipulasi fakta hukum. “Hakim sengaja tidak memberi penilaian terhadap satu fakta atau bukti tertentu sehingga putusannya ringan, atau bebas,”kata Busyro.

Modus ketiga, adalah manipulasi penerapan peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan fakta hukum yang terungkap di persidangan. Majelis hakim, mencari peraturan hukum sendiri sehingga fakta-fakta hukum ditafsirkan berbeda. “Akhirnya juga sama, bebas,”kata Busyro.

Modus terakhir, pencarian peraturan perundang-undangan oleh majelis hakim agar dakwaan jaksa beralih ke pihak lain. Terutama pada kasus korupsi. “Dibuat agar terdakwa melakukan hal tersebut atas perintah atasan, sehingga terdakwa dibebaskan,”ujar Busyro.

Busyro menilai jika terbukti ada hakim yang terlibat mafia peradilan, maka hakim tersebut sangat layak dihukum berat. “Termasuk hukuman mati. Ini diperlukan untuk memberi rasa perlindungan hukum bagi masyarakat,” katanya.

Ketua Masyarakat Pemantau Peradilan UI, Asep Rahmat Fajar, menilai bahwa pembenahan dunia peradilan membutuhkan setidaknya tiga pilar pendukung, yakni kemauan politis dari pemerintah, strategi komprehensif dari lembaga peradilan dan kepercayaan publik.

Menurut Asep, mafia peradilan sulit diberantas karena maraknya rasa kasihan dari atasan pada bawahan yang sudah terbukti terlibat, birokrasi penanganan yang panjang dan rendahnya integritas pimpinan. “Ini membuat pengawasan menjadi sangat tidak efektif,”kata Asep.

Thoso Priharnowo

5 Komentar (+add yours?)

  1. perwirapenjara
    Agu 21, 2008 @ 08:46:42

    memang…

    Balas

  2. aRuL
    Agu 21, 2008 @ 23:32:17

    sipz…. semoga dilancarkan tugasnya😀

    Balas

  3. zacka
    Agu 22, 2008 @ 03:20:41

    tinggal 2 hari lagi…akhirnya…bisa tidur nyenyak lagi.. nyem nyem -_-‘

    Balas

  4. khibran
    Agu 22, 2008 @ 13:33:46

    Terima kasih atas tanggapannya… Semoga blog ini dapat bermanfaat dan memberikan keberkahan…

    Balas

  5. halexblue
    Agu 28, 2008 @ 19:08:01

    gue bikin esai mafia peradilan jam tiga pagi sampe jam setegah lima… bener-bener tidur cuman setengah jam… ckckck,,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: