BELUM ADA JUDUL

Pagi itu, sekitar jam empat pagi Khibran terbangun dari tidur semalaman yang nyaman dan nyenyak. Nyaringnya suara kokokan ayam di belakang rumah kos, merubah sepinya suasana keadaan sekitar rumah. Khibran bergegas menuju kamar mandi, cuci muka dan aktifitas biasa kulakukan. Tak lama berselang suara merdu muadzin-muadzin terdegar, tanda waktu solat subuh akan dimulai. Sahutan suara Adzan terdengar dari penjuru kampung dimana Khibran tinggal. Sekitar 2 Masjid dan sepuluh musola dengan lantang mengabarkan tanda solat subuh telah dimulai. Bergegas Khibran menuju ke salah satu Masjid yang tak terlalu jauh dari kos Khibran. Berjalan kaki menuju Masjid yang berjarak kurang lebih satu kilometer menambah semangat langkah kaki ini menuju rumah Sang Maha Esa tersebut.

Dalam tengah perjalanan Khibran bertemu dengan orang-orang Mukmin yang akan menunaikan solat berjamaah, baik di Musola atau di Masjid. Lemparan senyum selalu ditunjukkan oleh para jamaah-jamaah tersebut ketika bertemu Khibran. Sesampai di Masjid, Iqomah pun dikumandangkan, segera solat subuhpun dimulai. Suara merdu Imam menambah khusyuk solat jamaah kami. Hati Khibran bersyukur tatkala melihat penuhnya ruangan masjid, yang diisi oleh jamaah putra dan putri. Alhamdulillah ucap Khibran dalam hati.


Sampai di kos Khibran langsung membaca kitab suci Al-Qur’an. Dua puluh menit kemudian, Fajar pun terbit menandakan kekuasaan Allah Swt yang tidak terbatas. Bergegaslah Khibran mandi, karena pagi jam tujuh ini Khibran ada mata kuliah.

Kupacu sepeda motorku perlahan menyusuri kampung-kampung menuju kampus, disepanjang perjalanan Khibran melihat senyuman orang-orang yang sedang giat melaksanakan aktivitasnya. Ibu-ibu banyak kulihat sedang menyapu halam rumahnya, Bapak-bapak sedang mempersiapkan diri dan peralatannya untuk bekerja dan Anak-anak kecil sedang ingin berangkat sekolah. Kujumpai pula ada anak yang sedang berpamitan dengan orangtuanya ketika akan berangkat sekolah. Rasa semangat dan disiplin tergambar dalam raut muka dan sikap orang-orang tersebut.

Sekitar 2 kilometer perjalanan akhirnya Khibran sampai di kampus. Senyum Pak Satpam menyambutku ketika ia memberikan karcis tanda motor. Khibran langsung menuju ke ruang kuliah, ternyata sudah banyak teman yang sudah duduk di bangkunya sambil membaca buku pelajaran, ada juga yang sedang berdiskusi mengenai masalah-masalah yang belum bisa dipecahkan. Tepat jam 7 Pak Dosen masuk dalam ruangan, akhirnya kami semua memulai pelajaran. Tapi sebelumnya Pak Dosen memimpin doa dan salam ramah Bapak disambut oleh anak-anak. Dalam kuliah kali ini banyak teman yang bertanya dan mengemukakan pendapatnya dengan santun, termasuk Khibran.

Kuliahpun selesai doa akhir belajarpun kami panjatkan, semoga Ilmu yang kami dapatkan bisa bermanfaat. Khibran tidak langsung meninggalkan kelas, akan tetapi bercerita dan bertukar pikiran dulu terhadap teman-teman.

Di Kantin kampus, Khibran membeli Koran dan sedikit cemilan. Sambil membaca Koran Khibran menikmati lezatnya kue buatan koperasi perkumpulan Ibu-ibu isteri Karyawan Fakultas yang kreatif. Lembar demi lembar Khibran buka, halaman demi halaman Khibran baca. Pada halaman muka terlihat poster gambar Narkoba yang disilang, setelah Khibran baca seluruhnya, ternyata isinya bahwa Indonesia sudah bebas dari barang haram tersebut. Banyak gembong dan bos-bos Narkoba telah dijebloskan dalam penjara. Pemuda-pemudi dan masyarakat Indonesia bebas dari narkoba.

Halaman berikutnya yang tergabung dalam kolom Nusantara, ada berita yang memuat tentang kerukunan dan persatuan Indonesia. Di berbagai daerah terjalin kerukunan antar umat beragama, kerukunan antar suku, persatuan antar etnis. Mereka walaupun berbeda SARA dan kepentingan namun tetap bersatu untuk membangun Indonesia yang lebih dan terus Sejahtera. Pada kolom Internasional Khibran baca sekilas juga tentang perdamaian, konflik timur tengah, negara-negara berkembang lain sudah berakhir. Hanya perdamaianlah yang bergema.

Baru sebagian Koran Khibran baca, setelah itu Khibran memutuskan untuk meninggalkan kantin. Khibran mencoba menemui teman-teman Khibran yang sedang asyik duduk di DPR (Dibawah Pohon Rindang). Mereka asyik bercerita dan membahas soal berita-berita actual.

Dalam obrolan-obrolan ringan tersebut Khibran mencoba bertanya pada teman yang juga pengurus BEM (Badan Mahasiswa), sebut saja namanya Rahmad. Sambil guyonan Khibran bertanya, gimana ada kegiatan demo (unjuk rasa) lagi tidak?. Aku siap lho, tapi demo yang memperjuangkan Kebenaran dan keadilan ya?.. Rahmad menjawab dengan pelan “Apa yang mau dikritik, apa yang mau didemo?, sekarang semuanya berjalan dengan semestinya. Tidak ada lagi anggota DPR/DPRD atau pejabat lain yang korupsi, Mafia Peradilan sudah habis, angka pengangguran dan kemiskinan sudah di bawah 1 persen, dan kehidupan rakyat kita sudah mapan, sandang pangan papan sudah tercukupi semua, Hak-hak sudah diberikan. Lantas apa yang mau diributkan?”. Alhamdulillah jawab Khibran seketika itu, akhirnya kami membicarakan hal lain. Membicarakan Penyisihan Piala Dunia, yang ketika itu Indonesia lolos babak penyisihan Zona Asia tenggara.

Lama kami bercerita, karena hari ini hanya ada satu mata kuliah akhirnya Khibran memutuskan untuk langsung pulang ke kos. Sebelum ke kos Khibran teringat akan tugas kelompok Khibran. bergegas Khibran menuju ke kos teman, Ahmad namanya. Kos-kosannya sederhana taoi rapi dan bersih, terpampag tulisan di depan ruang masuk kos “tamu wanita bukan Muhrim dilarang masuk”. Kabarnya seluruh Kos-kosan di kota tempat Khibran kuliah, bahkan di seluruh Indonesia ini sudah tertib dan beraturan. Hal tersebut untuk mencegah terjadinya sex bebas oleh remaja mahasiswa, terbukti sekarang mahasiswa sudah santun dalam berpacaran, tidak ada lagi pergaulan bebas.

Setelah tugas selesai… tiba-tiba… terdengar suara BANGUN-BANGUN… terdengar keras suara Wahyudi (teman sekelas Khibran) membangunkan aku. Pak Sardjuki (Dosen Hukum Tata Negara) masuk, lanjut dia menambahkan. Sekita itupun Khibran terbangun dan menyadari bahwa ternyata kisah diatas hanya pikiran-pikiran di benak Khibran atau semacam mimpilah.

……………………

Ternyata dunia Pikiran lebih Indah daripada dunia nyata, dalam dunia pikiran tergambar begitu banyak kenikmatan, ketenangan serta kedamaian. Kita dapat menjadi sutradara dalam dunia pikiran, semuanya dapat kita ubah dan lakukan sesuai dengan kehendak kita. Dapatkah pikiran-pikiran diatas menjadi nyata?

Dunia pikiran merupakan perencanaan dari dunia nyata. Dunia pikiran merupakan navigasi bagi kehidupan di dunia nyata. Dunia pikiran diatas bukan merupakan hayalan akan tetapi merupakan CITA-CITA. Cita-cita dengan hayalan sungguh jauh berbeda.

Percayalah, Insya Allah kita dapat mewujudkan cita-cita kita. Cita-cita kita akan dapat terwujud dengan DUIT. Duit disini hanya istilah Doa, Usaha, Ilmu, Takwa…

Perubahan Untuk Semua ke arah yang lebih baik.

4 Komentar (+add yours?)

  1. marsudiyanto
    Apr 16, 2009 @ 18:32:36

    Koncomu ning mimpi jenenge kok apik2. Rahmad, Ahmad…
    Tak kiro pindah ning negoro liyo….

    Balas

  2. khibran
    Apr 25, 2009 @ 01:30:53

    @Pak Mar
    Oh… kalau misalnya namane import, ya kurang pas ma alur ceritane..
    he..he..he…

    Balas

  3. Wahyu
    Jul 07, 2010 @ 22:27:16

    wah Bran,peran ku ko’ dikit bangt cm mbangunin kwe…
    Lain kali kasih peran yg rada herois dikit lah…

    Balas

  4. khibran
    Jul 09, 2010 @ 09:27:35

    @AA Wahyu…
    untuk sementara ini Mas Wahyu jadi pemain figuran aja…
    hehehehe….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: