PENTINGNYA KETEGASAN SEORANG PEMIMPIN

“Api pun tidak akan berani membakar Air, yang kiranya dapat memadamkan dirinya sendiri”

Tapi yakinilah, bahwa Api akan Berani dan Bisa membakar Air…..

Salah satu sifat yang harus dimiliki Pemimpin yang termuat dalam Hasta Brata[1] adalah Pemimpin dapat bersifat seperti Api, artinya Pemimpin tersebut dapat bersifat dan bersikap secara tegas tidak pandang bulu terhadap anak buah – anak buahnya. Pemimpin diharapkan dapat mengatakan yang salah itu salah dan yang benar itu benar. Serta Pemimpin tersebut dapat memberi tindakan, bahkan hukuman atas kesalahan yang dilakukan anak buahnya tersebut. Pemimpin juga diharapkan tidak pilih kasih, dan dapat menyamakan semua anak buahnya di depan hukum (Equality before the law).


Itulah mungkin salah satu kesulitan menjadi seorang Pemimpin, bahwa harus dapat memberlakukan sama terhadap anak buahnya. Kesulitan itu ternyata juga dialami oleh Api, yang Api tadi adalah penggambaran dari sikap ketegasan. Saya pikir Api pun tidak akan mau dan mampu secara langsung membakar Air, karena itu sangat beresiko bagi dirinya sendiri. Ia akan berpikir jikalau aku (Api) membakar Air, maka tidak mungkin Aku (Api) sendiri yang akan kalah atau padam.

Pengandaian-pengandaian tersebut diataslah, yang terlintas dipikiran Khibran setelah memimpin Rapat Panitia, Juni 2010. Di dalam kepanitiaan tersebut Khibran ditunjuk oleh Ketua Organisasi untuk menjadi Ketua Panitia. Rapat demi rapat, tindakan-demi tindakan telah dilaksanakan untuk cita-cita Kepanitiaan tersebut. Sampai suatu malam ketika diagendakan akan ada rapat, Khibran dibuat kecewa oleh anggota Kepanitiaan tersebut. Enam puluh persen Anggota Panitia tersebut tidak hadir dalam Rapat Tersebut, bukan itu yang membuat kecewa Ketua Panitia itu, akantetapi ketidak hadiran mereka adalah tanpa izin dan tanpa alasan yang jelas. Padahal dalam kesepakatan di awal dan peraturan yang telah ditentukan mengenai mekanisme izin (membuat surat izin dan surat pelengkap lain) apabila tidak dapat mengikuti Rapat tersebut. Akantetapi dari yang tidak hadir tersebut tidak ada yang memenuhi mekanisme tersebut. dan apabila tidak memenuhi mekanisme tersebut, maka akan mendapatkan sanksi yang telah disepakati bersama. Dari hal itulah Khibran berpikir dan merenung, apakah sanggup berlaku tegas, artinya dapat memberi hukuman terhadap semua anggota yang salah/melanggar hukum. Perasaan cemas ternyata juga hinggap di dada Khibran, bagaimana tidak, karena dalam anggota/anak buah yang melanggar aturan tersebut terdapat sahabat, dan orang yang dalam struktur organisasi (bukan dalam kepanitiaan) berada diatas Khibran, bahkan Ia mempunyai peranan penting dalam organisasi yang Khibran ikuti tersebut.

Perasaan tidak tega, rikuh dan malu untuk menghukum sahabat yang notabene adalah adalah membayangi perasaan Khibran. Rasa takut dan merasa ada hutang budi yang dalam juga membayangi hati Khibran ketika akan menegakkan suatu aturan yang ada, karena yang akan Khibran hukum notabene lebih tua dan secara posisi dalam organisasi mempunyai peranan penting. Takut ketika nantinya Khibran sudah tidak jadi ketua Panitia dan kembali ke Struktur organisasi Ia akan membalas Khibran dengan hal lain.      Wah… sungguh pikiran-pikiran yang pengecut memang…dan tidak pantasuntuk ditiru.

Ya Allah, mengapa sangat sulit mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Semoga pikiran Khibran yang pengecut itu, tidak juga terbayangkan oleh para Pemimpin-pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini, terutama para penegak hukumnya. Padahal banyak sekali godaannya, Ketua KPK pun mungkin akan merasa canggung ketika harus mengungkap kasus Korupsi Anggota DPR, karena memang Ketua KPK dipilih oleh  DPR.

Dari kekhawatiran tersebut, yang karena didalam hati nurani Khibran terlintas keinginan untuk menjadi salah satu pemimpin NKRI dan memajukannya, maka kekhawatiran tersebut harus dihilangkan dan dicari jalan keluarnya.

Khibran mulai meyakini bahwa Api tidak akan takut jikalau harus membakar Air, walaupun dirinya sendiri yang menjadi taruhannya”. Jikalau Ia memang tidak bisa membakar secara langsung Air, maka tentunya diperlukan suatu kecerdikan. Bakarlah Air tersebut diatas wajan atau kompor, kalau memang Api tersebut tiak dapat membakar Air secara langsung. Pasti seberapa banyak Air tersebut akan habis juga bila ia dibakar di dalam kompor, bila kompor itu tidak bocor. Alhamdulillah kekhawatiran dan kekatukan Khibran mulai hilang. Khibran sudah mempunyai cara unuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Khibran sudah memantapkan diri untuk memanggil semua anggota kepanitian yang salah tersebut untuk mendapatkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku, siapapun itu.

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memberikan hambaMu ini pengalaman yang berharga untuk kehidupan dewasa kelak. Terima Kasih Ya Rabb, kekhawatiran dan ketakutan ini sudah mulai hilang. Ya Allah hilangkanlah juga kekhawatiran dan ketakutan bahwa mengatakan benar itu benar dan salah itu salah yang tenunya dialami oleh para penegak hukum di NKRI.

Jayalah Indonesia…Jayalah Selamanya…

Muhammad Khibran


[1] Delapan Sifat Kepemimpinan Jawa yang diibaratkan seperti Alam. (Pemimpin harus bersifat dan bersikap seperti Api, Gunung, Samudra, Mega, Angin, Matahari, Bulan dan Air).

2 Komentar (+add yours?)

  1. Reza
    Jul 26, 2010 @ 17:24:35

    pemimpin berbeda dengan boss,, pemimpin adalah kawan bagi bawahannya…

    Balas

    • khibran
      Jul 29, 2010 @ 13:53:03

      bener Mas Reza… pemimpin harus bisa memberikan teladan didepan anak buahnya… memberikan dorongan semangat dan bekerja sama untuk kemajuan bersama….

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: