PT KERETA API INDONESIA PASTI JAYA

“Ojo Tibo Ing Lemah Roto (Jangan Jatuh Di Tanah Yang Datar)”
“Pemerintah Memang diberikan wewenang untuk menjalankan asas diskresi (kebebasan bertindak), akantetapi apabila tidak terkendali akan mengakibatkan willekeur yang tendensinya menimbulkan kerugian pada pihak tertentu”

Jangan pernah jatuh di tanah yang datar, itulah salah satu nasehat atau pesan yang pernah disampaikan oleh Mantan Presiden Republik Indonesia ke 2, Bapak H. Muhammad Soeharto. “Bagaimana mau bisa berlari, lebih-lebih melompat, kalau berjalan diatas tanah yang datar saja terjatuh”, itulah salah satu pesan Pahlawan Pembangunan, untuk Bangsa Indonesia, yang termuat dalam salah satu bukunya. Makna dari nasehat tersebut kurang lebih adalah jangan sampai kita meremehkan hal-hal, masalah-masalah sepele/kecil yang ada dalam kehidupan kita. Tidak diperkenankan kita untuk berbuat ceroboh, tidak waspada, sehingga dalam hal-hal kecil kita melakukan kesalahan atau kekeliruan. Kalau kita dalam menghadapi masalah yang kecil sampai jatuh atau keliru, maka kemungkinan besar kita akan gagal apabila dihadapkan pada masalah-masalah yang besar.

Berkaitan dengan kalimat-kalimat tersebut diatas, pada kesempatan ini, Penulis akan menuliskan pengalaman sewaktu menggunakan jasa Kereta Api. Sebuah pengalaman yang seharusnya bisa menjadi koreksi bersama, agar Perkeretaapian Indonesia lebih baik.
Rabu 30 Juni 2010 jam 4 sore, Penulis pergi ke Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, disana Penulis ingin bertanya mengenai Jadwal Keberangkatan kereta api dari Yogyakarta-Semarang (lewat Solo), lebih-lebih memesan tiket. Karena pada tanggal 1 Juli 2010 Penulis akan pulang ke Kendal (melalui Semarang). Memang tidak biasanya Penulis menggunakan jasa Kereta Api, biasanya menggunakan Bus atau sepeda motor.

Setelah sampai di tempat pembeliaan tiket, Penulis menanyakan mengenai;
“apakah ada Kereta menuju Semarang (langsung, tanpa oper di solo), harga tiket dan waktu keberangkatan?”
Petugas tersebut menjawab “Ada Mas, Kereta Joglosemar, harga tiket Rp. 24.000 dan keberangkatan setiap hari jam 08.49 dan 16.59, dua kali sehari”.
lantas Penulis menanyakan lagi “kapan pembelian tiket tersebut, apa bisa pesan?”.
Dijawab lagi “tiket dibeli saat akan keberangkatan”.

Dari Informasi tersebut Penulis semakin memantapkan diri untuk Pulang Semarang menggunakan Kereta Api Joglosemar, jurusan Semarang pada Kamis, 1 Juli 2010 jam 16.59 (keberangkatan ke dua) dan langsug pulang ke Kos untuk berkemas.

Kamis, 1 Juli 2010 pun tiba jam 16.00, setelah solat asar dan mempersiapkan segala keperluan yang akan dibawa pulang, Penulis menuju ke Stasiun Lempuyangan dengan jalan kaki. Jarak dari Kos ke Stasiun kurang lebih ada 2,5KM, sebenarnya mau minta tolong teman se Kos untuk mengantar, akan tetapi tidak jadi, karena ia sedang tidur.
Lima belas menit kemudian Penulis Sampai di Lempuyangan Stasiun, dan langsung menuju ke Loket untuk membeli tiket. Akantetapi apa yang disangka, Jadwal kereta api diubah keberangkataanya menjadi, satu kali sehari yaitu Jam 14.59 Mulai 1 Juli 2010 sampai seterusnya. Seketika itu juga Penulis langsung marah (maaf) ke Petugas Loket “Bagaimana bisa, sehari sebelumnya Jadwal kereta api tidak seperti itu (jam 16.59), Bagaimana mekanisme ini, mengganti Jadwal tanpa Pemberitahuan jauh-jauh hari”.
Dengan cuek Petugas itu menjawab “ini kebijakan dari atas Mas, seterusnya nanti jadwal keberangkatan sehari satu kali, yaitu jam 14.59”.

Tak mau meneruskan kemarahan, Penulis langsung meninggalkan loket dan mencari tempat yang sepi untuk menelpon Agent Bus yang ada di Terminal Jombor untuk menanyakan apakah masih ada Tiket ke Semarang untuk hari ini. Ternyata keberangkatan Bus, baik Ramayana ataupun Nusantara sudah habis. Wah… bisa berantakan ni acara yang sudah Penulis buat, padahal sehari setelah itu Penulis akan ke Wonosobo untuk pengobatan. Akhirnya Penulis putuskan untuk naik kereta dari Jogja ke Solo menggunakan Prameks, dan berharap dari Solo-Semarang ada angkutan yang masih beroperasi. Lima belas menit kemudian kereta itu berangkat. Begitu ramai pengguna kereta tersebut, sampai-sampai dari Lempuyangan-Balapan Penulis berdiri, no problem lah.

Perasaan cemas tentang apakah masih ada angkutan dari Solo-Semarang menghantui, karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 (sampai Klaten). Selama perjalanan Penulis menghubungi teman yang ada di Solo, menanyakan tentang apakah ada Bus Solo-Semarang dan mengenai posisi teman-teman. Jawabannya coba menuju ke Terminal Tirtonadi, dan semua Teman di Solo sedang tidak ada di Posisi alias mudik.

Sampai di Solo Balapan Penulis dibuat kecewa lagi, bukan karena Kereta Banyu Biru jurusan Semarang sudah berangkat, akantetapi ketika Penulis bertanya kepada salah satu petugas yang disana, Ia tidak tahu sama sekali mengenai Jadwal keberangkatan Kereta dan tidak sekali seyumpun ia lemparkan. Dalam hati, Penulis bergumam, petugas macam apa ini, akan desk job nya saja tidak tahu dan tidak ramah pula sikapnya. Hal yang lucu adalah ketika Penulis bertanya kepada Tukang Becak, malah Tukang Becak tahu detail mengenai jadwal keberangkatan kereta plus dengan harga tiketnya. Hal yang ironi memang. Hahahaha…
Singkat cerita…….Alhamdulillah, Penulis dapat pulang dengan selamat sampai di salah satu Terminal Kota Semarang jam 22.35 menggunakan Bus Malam.

Ah…sungguh hari yang melelahkan dan tidak sesuai dengan prediksi. Harus ke Semarang dengan waktu yang lama, jarak tempuh yang panjang, ongkos tambahan yang tidak sedikit dan naik dengan dua alat angkut yang berbeda, sungguh pengalaman yang mahal harganya (karena mengeluarkan ongkos2 tambahan).

Dari pengalaman tersebut ada beberapa point yang dapat Penulis garis bawahi mengenai Pelayanan Publik yang diberikan oleh PT Kereta Api Indonesia. Walaupun yang Penulis garis bawahi tersebut terkesan hal yang sepele. Tapi, sekali lagi perlu kita ingat Falsafah Jawa yang dituliskan Pak Harto dalam salah satu bukunya Ojo Tibo Ing Lemah Roto. Jangan pernah melakukan kesalahan pada hal-hal kecil, jangan anggap enteng hal-hal kecil. Hal yang Penulis garis bawahi adalah;
1. Perubahan Jadwal Kereta Api yang sangat mendadak dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Memang untuk mewujudkan asas Welfare state di Indonesia, terdapat beberapa konsekuensi. Salah satunya adalah Pemerintah diperkenankan menggunakan asas diskresi, Pemerintah diberikan kebebasan untuk bertindak dalam hal apapun. Saya juga mengira bahwa tujuan perubahan jadwal tersebut untuk kepentingan masyarakat bayak, mungkin saja perubahan tersebut demi kelancaran lalu lintas perkereta apian Indonesia. Saya tahu bahwa perubahan jadwal itu mulia, untuk kepentingan masyarakat Indonesia.
Akantetapi apabila asas diskresi tersebut digunakan secara berlebihan dan tidak terkendali akan mengakibatkan willekeur (Penguasa yang sewenang-wenang) yang tendensinya menimbulkan kerugian pada pihak tertentu. Tentunya Pihak Manajemen dapat memberikan pemberitahuan jauh-jauh hari. Jangan menginformasikan sehari pada waktu perubahan melalui info media atau yang lain.

Itulah yang dapat saya sampaikan, semoga tidak ada pihak yang dirugikan dalam tulisan ini. Dan semoga transportasi di Indonesia semakin baik lagi.
Salam Pembangunan…

2 Komentar (+add yours?)

  1. alfanarendra
    Des 14, 2011 @ 12:44:35

    judulnya haha….saya udah banyak studi tentang transportasi , mentok nya di politik dan manusia….hahah

    Balas

    • khibran
      Des 16, 2011 @ 08:52:19

      Mas Alfa, kalau judulnya menghina nanti dikatakan pencemaran nama baik mas… Sebenarnya ini judulnya sangat “mak Jleb” mas… hehehe… tapi betul kata Njenengan, Politik dan kepentingan paling berkuasa.. wallahuaklam…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s