TENTANG FALSAFAH HIDUP

“Bagaimana kita bisa mengendalikan diri, jika kita tidak mengetahui jati diri kita (Soeharto, 1995)”

Sudah tujuh tahun (sejak 2004) Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono menjadi Presiden Republik Indonesia. Beliau adalah Presiden ke enam (6) di Negara Pancasila ini, berturut-turut dari Bapak Soekarno (1), Bapak Soeharto (2), Bapak B.J Habibie (3), Bapak Abdurahman Wahid (4) dan Ibu Megawati Soekarno Putri (5). Beliau merupakan Presiden dengan masa jabatan terlama dalam era reformasi ini, sampai sekarangpun pemerintahannya masih berjalan.

Dari tujuh tahun (dua periode) Beliau memimpin, saya rasa sudah membawa banyak kemajuan bagi bangsa Indonesia, dari pemberantasan korupsi, pendidikan, dan demokrasi. Akantetapi tentunya juga masih ada kekurangan dalam memimpin bangsa yang majemuk ini.

Bagi saya, ada satu hal yang kurang dari sosok Beliau sebagai seorang Presiden (sebagai Pemimpin Tertinggi Republik ini, sebagai Pemimpin seluruh masyarakat Indonesia). Hal tersebut adalah Beliau hampir tidak pernah menyampaikan mengenai FALSAFAH HIDUP Beliau.

Falsafah Hidup kurang lebih berarti pandangan hidup seseorang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Atau kurang lebih bermakna sebuah nilai yang dipegang teguh dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan daripada hidupnya. Sebagai seorang Pemimpin, mempunyai sebuah Falsafah Hidup adalah wajib hukumnya. Dan tidak hanya diamalkan bagi dirinya sendiri, akantetapi mengajak rakyatnya/anak buahnya untuk melaksanakan dan mengamalkan apa yang menjadi Falsafah hidupnya.

Berkaca dari Orde Baru
Pada tahun 1990an, Indonesia sudah memasuki puncak kejayaannya, ketika Indonesiasudah benar-benar dalam keadaan gemah ripah lohjinawi, tuwuh kang sarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku, tata tentrem karto rahardjo.

Ketika itu pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai enam sampai tujuh persen per tahun. Padahal, pada tahun 1965 inflasi mencapai 650 persen setahun, harga-harga naik 6,5 kali. Tahun 1990an tersebut inflasi hanya dibawah 10 persen, dan akan terus ditekan sampai tahun 1995an.

Pendapatan perkapita juga naik menjadi 10 kali lipat, menjadi 720juta Dolar AS/tahun. Nilai ekspor juga mencapai 36,5 milyar dollar AS (dari migas dan nonmigas (bahkan nonmigas lebih besar daripada migas (manufakturing, dan pertaninan). Sejak tahun 1984 pun sampai dengan penduduk berjumlah 190 juta orang lebih, Indonesia mampu berswadaya pangan. Dalam urusan pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan pun juga mengalami peningkatan yang sangat luar biasa. Sungguh prestasi yang luar biasa hebatnya.

Ketika itu, Presiden Soeharto selalu mengajak kita semua untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Dan, kunci sukses dari pengamalan Pancasila (pembangunan), kesuksesan-kesuksesan yang sudah diraih dan pembangunan manusia seutuhnya di Indonesia adalah “pengendalian diri, dan pengendalian diri akan berhasil bila kita tahu jati diri”. Itulah falsafah asli Indonesia, yakni Ilmu Kasunyatan dan Sangkan Paraning Dumadi.

Menurut Beliau, Pembangunan adalah pengamalan dari Pancasila. Kunci pengamalan Panasila adalah pengendalian diri. Orang tidak akan bisa mengendalikan diri, bila tidak tahu jati dirinya. Jadi, kita harus tahu jati diri kita, siapa kit dan darimana kita berasal.

Pengenalan jati diri itu juga bisa dikaitkan dengan ilmu hasta brata, yakni ilmu melihat manusia dari sifat alam ini. Sifat alam ini dilihat dari watak samudra, samirono (angin), kismo (bumi), chandra (bulan), surya (matahari), kartika (bintang), tirto (air) dan dahana (api). Dan sifat-sifat alam yang baik tersebut harus dimiliki oleh setiap Pemimpin, begitulah yang selalu disampaikan Presiden ke-2 Republik Indonesia ini.

Dari ilmu kasunyatan dan sangkan paraning dumadi yang dituiskan diatas, juga dilihat bahwa manusia tidak terlepas dari tiga alam, yakni 1. alam purwo, 2. alam madya dan 3. alam wasono. Alan purwo adalah kehidupan di dalam kandungan, sembilan bulan 10 hari. Alam madya adalah kehidupan di dunia ini yang tidak lama. Untuk hidup lebih lama dan lebih bahagia lagi adalah kehidupan di alam wasono. Bekal untuk hidup bahagia di alam wasono adalah amal baik di alam madya.

Ya, itulah nilai-nilai dan Falsafah hidup yang selalu dipegang teguh oleh Bapak H. M. Soeharto yang selalu diaplikasikan dalam kehidupannya, serta mengajak rakyatnya untuk melaksanakannya juga. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan ada 3 falsafah yang disampaikan Pak Harto dalam pembukaan Perkumpulan dalang-dalang se Indonesia tahu 1995, yakni;
1. kita harus mempunyai sifat Hasta Brata
2. kita harus bisa mengendalikan diri kita dengan cara mengetahui jati diri kita (Sangkan Paraning Dumadi).
3. Melaksanakan Ilmu Kasunyatan (memahami secara mendalam akan sebuah kehidupan).

Sebenarnya, sangat banyak falsafah hidup yang menjadi pegangan Pak Harto dan juga sering dismpaikan kepada rakyatnya. Diantaranya adalah;
1. Sadhumuk Bathuk Sanyari Bumi, Den Lakoni Taker Pati.
2. Ojo Gumunan, Ojo Kagetan lan Ojo Dumeh.
3. Mikhul Nduwur Mendem Njero

Bagaimana dengan Penulis?.

Ya, memang sudah seharusnya Pemimpin Besar itu mempunyai sebuah prinsip hidup atau Falsafah hidup atau nilai-nilai baik yang selalu dipegang teguh.

Lantas, pertanyaan selanjutnya adalah apakah Muhammad Khibran (Penulis) sebagai Seorang Komandan Satmenwa UGM mempunyai Falsafah Hidup?. Apakah mempunyai nilai-nilai yang harus dipegang teguh.
Yes, I have do. Itulah jawaban saya.
Lantas, Apa nilai-nilai yang menjadi pegangan tersebut?. Dan, apakah juga disampaikan kepada seluruh anak buahnya?

Ya, sudah hampir satu tahun ini, Saya memimpin Satmenwa UGM. Sudah banyak hal yang saya lalui, alami dan lakukan, hal-hal itu kiranya bertujuan untuk menempa diri saya agar lebih baik.
Karena sesungguhnya, kepala semut lebih berat daripada ekor gadjah. Walaupun UKM Satmenwa UGM hanya organisasi kemahasiswaaan, akantetapi untuk menjadi pemimpinnya memerlukan tenaga, pikiran dan perjuangan yang sangat banyak.

Dari pengalaman-pengalaman yang sudah saya alami tersebut, memantapkan diri saya untuk selalu mengamalkan ajaran Bung Karno “The Service of Fredoom is Deathleas is service”, bahwa pengabdian terhadap perjuangan kemerdekaan, pengabdian terhadap nusa dan bangsa dan pengabdian terhadap almamater tidak mengenal batas akhir.

Pengabdian yang tidak mengenal batas, itulah falsafah pertama yang saya pegang. Sebagai seorang Pemimpin, saya harus mendarmabaktikan semua yang saya punya, baik tenaga, pikiran bahkan harta pribadi harus saya relakan demi organisasi yang saya pimpin.

Tengok sekarang (24 November 2011), dalam satu tahun ini, Satuan Resimen Mahasiswa Universitas Gadjah Mada selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada Bangsa dan Negara, tidak hanya kepada Universitas semata. Sehingga selalu mendapat kepercayaan untuk mengambil peran-peran strategis dalam pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tema besar Menwa UGM pada tahun ini adalah pengabdian masyarakat, khususnya Pengembangan Karakter Generasi Muda. Hal tersebut dilatar belakangi oleh keprihatinan Menwa UGM terhadap sebagian Generasi muda Indonesia yang telah terbius oleh ekses-ekses (salah satunya westernisasi) daripada globalisasi”.

Satu tahun terakhir ini kita bisa menggandeng instansi-instansi besar untuk diajak bekerjasama, baik militer maupun eksekutif. Diantaranya adalah Dinas Kesbanglinmas Provinsi DIY (Penyokong Dana Salah Satu Kegiatan PPBN), Akademi Angkatan Udara (Pendidikan Bela Negara Siswa SMA), Akademi Angkatan Darat, Landasan Udara Lanud Adi Sutjipto Yogyakarta (Atraksi terjun payung), Pertamina (kerjasama pengadaan tenda), Dirbinmas Polda DIY (Pendidikan Bela Negara Siswa SMA), Asisten Teritorial Panglima TNI (Audiensi), Yonif 043, Museum Pusat TNI AD (Night at Museum), Dit Lantas Polda DIY (Latihan Pam dan Lalin), Dinas Kebakaran Kota Yogya (pelatihan dasar damkar), Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (konvensi internasional), Pusat Kebudayaan, Pusat Studi Pancasila, Fakultas Hukum UGM (pam konser Iwan fals) dan berbagai instansi lain.
Pada tahun ini, Menwa UGM juga mampu untuk mengadakan pendidikan/pelatihan pengembangan karakter antara lain:
a. Satmenwa UGM Untuk Merah Putih untuk siswa SD Jetis Kulon Progo, mengajarkan nilai-nilai kejuangan pahlawan (kelas 1-2), Lingkungan hidup (kelas 3), Pengenalan Bahaya Bencana Alam (kelas 4), Pengenalan Teknologi Ketdirgantaraan (kelas 5 dan 6). Juni 2011.
b. Night At The Museum, Sebuah kegiatan inovasi untuk memperkenalkan arti penting museum dan menanamkan nilai-nilai kejuangan Pahlawan kepada generasi muda, Pelajar SMA se DIY. Juli 2011.
c. Pelatihan Pengembangan Karakter di SMP Negeri 2 Gedangsari Gunng Kidul. Pelatihan selama dua hari, bekerjasama dengan Astra Internasional Tbk dan Fakultas Psikologi UGM. 26-27 September 2011
d. Pendidikan Pendahuluan Bela Negara, Pelatihan sela satu minggu yang materinya mengenai pengembangan karakter diikuti oleh siswa sma se DIY dan Jawa tengah 12-16 Oktober 2011.
e. Seminar KeGadjahmadaan (12 November 2011).

Serta pelatihan atau kegiatan lain (lihat tulisan di blog sebelumnya) yang sesuai dengan jati diri Menwa.

Dan mengenai keuangan, dari semula Rp.163.00 (februari 2011) menjadi +Rp. 28.000.000 (November 2011). Dengan dana yang banyak tersebut kekhawatiran untuk kekurangan dana dalam pemberangkatan Diksarpun sudah bisa teratasi. Ya, itu emua berkat kerja keras semua komponen Menwa UGM.

Falsafah kedua yang selalu saya tanamkan dalam diri saya dan anak buah saya adalah salah satu ajaran dari Patih Gadjah Mada. Yaitu, Ginong Pratidino, artinya kurang lebih adalah hari esok harus lebih baik. Maka, dalam setiap ucapan, pikiran dan tindakan kami harus selalu lebih baik. Maka, kami selalu berusaha untuk meneruskan periode lalu yang sudah baik dan membuatnya lebih baik.
Dan sangat wajar jika Mantan Ketua Kamenwagama Mas Joko Pras mengatakan bahwa Periode 2011 ini sudah Tinggal Landas, Periode ini sudah sangat baik dibanding 7 tahun terakhir (paska reformasi khususnya).

Itulah beberapa Falsafah hidup yang semoga bisa dijadikan panutan agar diri kita lebih baik, agar bangsa ini lebih baik.
Sekian. Terima Kasih.

(Yogyakarta, 24 November 2011.. Ditulis di ruang Komandan Satmenwa UGM setelah selesai merampungkan LPJ tahunan Komandan).

1 Komentar (+add yours?)

  1. oentoeng suropati
    Jan 31, 2015 @ 05:15:32

    salam hormat d kenal sya nDan..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s