IDEALISME YANG KERAS KEPALA

Dalam cerita di bawah ini, tidaklah penting mempertanyakan nyata atau tidaknya cerita di bawah ini, yang ingin dilihatkan dari cerita tersebut adalah makna atau hikmah yang dapat diambil dalam cerita di bawah ini. Mari kita simak!!!
__________________________________________________________

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30, langitpun sudah gelap gulita dan bintang-bintangpun kebetulan tak menampakkan diri. Ketika itu, Ahmad, Budi, Rini dan Yanti beserta teman-teman SMAnya baru saja usai melakukan halal bihalal di sebuah rumah makan kolam pemancingan di Kota Anazura. Acara baru saja ditutup doa oleh salah satu dari teman mereka yang sekarang menjadi guru agama di Kota Anazura, namanya Malik.

Akhirnya, satu persatu dari mereka bergegas pulang ke rumah masing-masing karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Berbeda dengan Rini, ia tak segera pulang karena ia tidak membawa motor ataupun alat transportasi lain seperti halnya teman-temannya. Rini kemudian menghampiri Ahmad dan berkata, “Mad, bolehkan aku pulang bersamamu (nebeng) sampai ke rumahQ??”.. rumah Ahmad dan Rini hanya berjarak beberapa puluh meter saja, sehingga Rini berniat untuk pulang bersama Ahmad yang kebetulan Ahmad membawa sepeda motor.

Jawab Ahmad mengagetkan “Tidak boleh, kita bukan muhrim… HARAM hukumnya kita berboncengan”.. Sikap Ahmad beberapa tahun ini memang berubah, semenjak ia menjadi Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Hamurabi, ia menjadi sosok yang religius dan taat beragama, ia mencoba untuk melaksanakan SEMUA perintah Allah SWT termasuk tidak mau memboncengkan Rini, karena dianggap dengan berboncengan, bisa menimbulkan zina. Padahal Rini dan Ahmad bisa dikatakan sudah seperti kakak-adek sendiri, karena Rini dan Ahmad adalah sahabat baik, dari TK sampai SMA pun mereka satu sekolahan, orang tua mereka juga menjalin persahabatan yang sama.

Akhirnya, Ahmad meninggalkan Rini dan pulang menuju rumahnya. Teman-teman mereka pun sudah pulang kerumah masing-masing. Hanya Ahmad yang rumahnya satu jalur dengan rumah Rini. Akhirnya, Rini memutuskan pulang sendiri ke rumahnya dengan menggunakan angkutan umum.

Namun malang baginya, sudah tidak ada angkutan umum lagi yang menuju ke rumahnya. Dan kemalangan tidak hanya berhenti sampai disitu. Singkat cerita, Rini menjadi korban kebrutalan para preman yang sering mangkal di terminal dekat kawasan tersebut. Seluruh harta berharganya dirampas secara paksa oleh preman yang sedang mabuk itu, termasuk harta yang paling berharga bagi seorang gadis.
–Tamat–

Akhir cerita tersebut memang sangat menyedihkan, Rini terpaksa harus menyerahkan harta-hartanya kepada preman-preman yang mabuk itu.

Epilog
Hanya kata “SEANDANYAI” yang mampu penulis katakan setelah selesai membaca cerita tersebut;
SEANDAINYA tidak ada Preman-preman keji itu, SEANDAINYA Rini tidak pulang terlalu malam, SEANDAINYA Ahmad mau mengantar Rini pulang, SEANDAINYA Ahmad mau “mengerti” tentang apa yang diperintahkanNya, SEANDAINYA…….., dan SEANDAINYA-SEANDAINYA lain…..

Silahkan kepada pembaca sekalian untuk menyimpulkan hikmah atau makna dari cerita tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: