Untuk Siapa?

 

Aku takut sendiri, Akupun takut bersamamu…

 

Aku takut sendiri….

Ketika dilanda sepi, nafsuku seakan meninggi…

Merasa tak diawasi…

Goda datang silih berganti….

Iman pergi dari sanubari…

Takwa pipih seperti kulit ari…..

 

Aku juga takut bersamamu…

Saat kumpul dengan manusia, solatku jadi khusuk….

Ucapanku lebih sopan….

Kelakuanku tak lagi binal….

Rasanya aku menjadi manusia paling beriman…

Pendek kata, sandiwara…

 

Lantas untuk siapa amalku?

Rasanya…

Amalku hanya untuk manusia…

Amalku bukan mengharap ridho Tuhan Yang Esa….

 

Inna solati wanusuki wamahyaya wammati lillahirobbil alamin.

Bukankah seharusnya solatku, ibadahku dan hidupku hanya untuk Allah?

………………………….

Belum tibakah saatnya mengkoreksi diri?

Bercermin sebelum dihisabnya?

 

 

Quo Vadis Uang Pungutan Sekolah

jika ongkos pendidikan terlampau mahal? bagaimana mungkin anak anak kurang mampu bisa mengaksesnya??
bukankah pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara?
bukankah kesejahteraan umum dan kecerdasan kehidupan bangsa adlh tujuan didirikannya Indonesia??
“Quo Vadis Uang Pungutan Sekolah”
curah gagasan untuk pengelolaan pendidikan yg lebih baik…
selengkapnya, bisa dibaca di Kolom Opini, Bali Post yg terbit 10 November 2016..
Nova Ary Wijaya dan Khibran Muhammad….

quo-vadis

Mencapai kesejahteraan sosial

sanger

Tercapainya kesejahteraan social adalah cita-cita kita…
Kita tidak boleh menjadi pribadi yang hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain….
Komitmen dan tekad untuk mencapai cita-cita kesejahteraan social harus kita tanamkan dalam-dalam….
Kesejahteraan social bagi seluruh rakyat yang sedang kita perjuangkan adalah kewajiban besar dari hanya sekedar memikirkan diri sendiri dan golongan….
Kewajiban untuk mencapai kesejahteraan social adalah kewajiban kita semua….
Kewajiban atas tercapainya kesejahteraan social tidak hanya dibebankan kepada orang kaya saja,,,
Tidak mungkin saya katakana ; “hai orang kaya, tolong bantulah rakyat yang miskin itu”…
Akan tetapi saya akan mengatakan “seluruh rakyat; harus tplong menolong.. baik rakyat yang miskin maupun rakyat yang kaya…”
Semua rakyat harus mempunyai pandangan bahwa “selalu ada orang lain yang keadaanya lebih buruk daripada keadaanku, dan aku ingin menolongnya… aku ingin menolongnya karena dia saudaraku”..
Sekali lagi saya katakan, kewajiban untuk mewujudkan kesejahteraan social adalah kewajiban kita semua….
Jika ada yang bertanya kepadaku; “Apakah saya harus berkorban banyak untuk tercapainya kesejahteraan social??”
Maka saya jawab.. “ya, pengorbanan untuk mencapai kesejahteraan social tidak mengenal batas… ketika kamu telah berkorban banyak untuk tercapainya kesejahteraan social, maka kamu boleh menengadahkan kepalamu tinggi-tinggi dan kamu adalah sebaik-baik manusia, manusia yang bermanfaat bagi orang lain…”
Keyakinan kita untuk tercapainya kesejahteraan social harus tidak tergoyahkan,,,
Tekad kita pun harus luar biasa besarnya….
Ketika keyakinan dan tekad telah bertemu secara dahsyat…
Maka kesejahteraan social akan segera kita capai…
Insya Allah kesejahteraan social akan segera kita capai…

5 Safar 1438H

Hari Yang Pasti Akan Terjadi….

kau tahu, hari yang pasti akan terjadi itu benar-benar akan terjadi….
Tapi, kenapa sedikit sekali kau mengimani???….
Kenapa pula kelakuanmu semakin menjadi jadi???….
Tak takutkah kau jika pada hari yang pasti akan terjadi itu, kau menerima catatan amalmu dengan tangan kiri????
tak ngerikah kau jika pada hari yang pasti akan terjadi itu tujuh puluh hasta rantai membelenggumu….
Renungkanlah!!!! hari yang pasti akan terjadi itu menyudahi segala sesuatu….
Ingatlah!!! ketika tiba hari yang pasti akan terjadi itu, membuat harta duniamu sama sekali tak berarti bagimu….
Selagi nyawa dan badanmu masih menyatu, taat dan takwalah atas perintah dan larangan Tuhanmu….
Jadilah laki-laki yang baik…..
Hijrah mas… Hijrah…
Murnikan tauhidmu….
Sempurnakan takwamu….
Tawakalkan dirimu…..

‪#‎AlHaqqah‬
‪#‎HariYangPastiAkanTerjadi‬
‪#‎AnakBajangMembacaPeringatan‬

Diamnya Anak Bajang….

Sebelum Kau suruh aku diam, aku pun sudah “mbisu”, “topo”, “ora ngomong”….
Aku juga tak terlalu berhasrat membicarakan masalah dunia yang Kau dendangkan sekarang…. Tak ada minat aku memperdebatkan benar atau salah atas TitahMu itu….

Tapi, diamku yang bagaimana yang Kau inginkan????

Diamnya seperti “Manikmaya” kah??? yang diamnya adalah siasat yang mengantarkan dirinya menjadi penguasa Jonggring Saloko….

atau diamnya “Prabu Salya”???, yang diamnya mengantarkan kematian bagi menantunya Adipati Awangga, Karno Suryoputro….

atau diamnya “Kumbokarno”??? yang diamnya penuh keragu-raguan karena BINGUNG MANA YANG HARUS DIPIHAK, Rahwana kakaknya yang melambangkan Dur Angkara Murka atau Sri Rama Raja Pancawati yang cermin kesucian ….

Ya… aku belum bisa memahami bagaimana perintahMu; diamku untukMu…. perintahMu kali ini tak seperti nasehatMu beberapa warsa yang lalu, nasehatMu ketika aku baru pertama kali memasuki Bangsal Kencono… ya, aku tak boleh berbicara kalau tidak diajak bicara, topo rame katanya…..

Tapi, mengejewantahkan apa maksudMu kali ini, tak cukup menggunakan talingan, tapi juga harus menggunakkan rogo, roso lan rupo untuk memahaminya….

Lagi

Makku dan Doanya Untukku

Mak, Kau kan dulu bilang bahwa aku anakmu sudah dewasa…..
Kaupun selalu berucap bahwa anakmu ini sudah tak patut berbuat dosa….
Katamu, perbuatan anak mak seharusnya sudah bukan lagi pada tahapan menghindari apa yang diharamkan, tapi sudah bisa jauh dari sia sia….
Dalam asmarapun mak sepertinya mengijinkan anakmu ini untuk segera menikah…..
Mak percaya bahwa anak mak sudah bisa membedakan arti cinta dan nafsu….
Mak pun yakin aku bisa melaksanakan nasehat mak dalam mencari cinta sejati…
Ya, anak mak akan menikah dengan gadis tidak hanya karena cinta, tapi karena aku yakin bahwa surganya Allah semakin dekat jika aku hidup bersamanya…
Dan akhirnya, pilihanku untuk hidup dirantau sudah kau ijnkan mak….
Lagi

Aku, Romo dan Pohon Keben

Sudah bisakah kau memahami makna cinta yang sesungguhnya anakku???
Ambilah hikmah dari kisah Putri Sumali dan Begawan Wisrawa anakku…
Kau Sudah Dewasa….
Seyogyanya bertambah pula kebaikan dalam dirimu…
Sudah saatnya kau meninggalkan tindakan dan ucapan masa lalumu yang tidak sesuai dengan tuntunan….
Sudah bukan lagi pada tahapan menghindari yang diharamkan, tapi sudah bisa jauh dari SIA-SIA….
Dalam asmara pun demikian…
Bukan belajar pada tahap membedakan apa arti cinta, apa itu nafsu???
Tapi sudah berpikir ke tahap selanjutnya…
Ya, jangan menikah karena “jatuh cinta” , “janji” apalagi “kasihan”, menikahlah karena kamu merasa SURGA ALLAH LEBIH DEKAT JIKA BERSAMANYA….. hidup di dunia hanya sementara anakku….
Pandai pandailah…..
#Aku, Romo dan Pohon Keben @13 Rejeb 1944…..

Previous Older Entries